Kita semua tentu akrab dengan peribahasa bijak, “Tiada gading yang tak retak.” Secara harfiah, peribahasa ini mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Setiap hal, sehebat apapun, pasti memiliki celah, kekurangan, atau kelemahan. Dalam konteks yang tepat, nasihat ini sangat berharga untuk menumbuhkan sikap toleransi, empati, dan menerima bahwa kesempurnaan mutlak bukanlah tujuan hidup.
Namun, ada bahaya laten ketika kita mulai menyalahgunakan kebijaksanaan ini. Tanpa disadari, peribahasa mulia ini sering kali dijadikan tameng untuk membenarkan kemalasan, ketakutan, dan sikap pasrah yang berlebihan. Kita mengucapkannya sambil menghela napas, lalu duduk berpangku tangan, menerima nasib tanpa perlawanan.
Ketika Kebijaksanaan Berubah Menjadi Pembenaran
Bayangkan skenario ini:
· Seorang pelajar yang malas belajar, lalu mendapat nilai buruk. Daripada introspeksi, ia berkata, “Ya, namanya juga manusia, tiada gading yang tak retak. Tidak ada orang yang sempurna.”
· Seorang karyawan yang bekerja asal-asalan, menyebabkan kesalahan fatal. Alih-alih memperbaiki, ia berkelit, “Wajar ada kesalahan, bukankah tiada gading yang tak retak?”
· Seorang yang memiliki hubungan yang toxic, tetapi memilih bertahan tanpa usaha memperbaiki dengan dalih, “Tidak ada hubungan yang sempurna, tiada gading yang tak retak.”
Dalam contoh-contoh ini, peribahasa yang seharusnya memanusiakan manusia, justru menjadi pembenaran untuk tidak berkembang. Kita menggunakan “kekurangan” sebagai titik akhir, bukan sebagai titik awal untuk belajar dan memperbaiki diri. Inilah penyimpangan makna yang berbahaya.
“Retaknya Gading” Bukanlah Tujuan, Melainkan Pelajaran
Esensi sebenarnya dari “tiada gading yang tak retak” bukanlah ajakan untuk pasrah pada “retak” itu sendiri. Melainkan, sebuah pengakuan bahwa dalam perjalanan menuju tujuan, kita akan menemui ketidaksempurnaan. “Retak” itu adalah konsekuensi dari perjuangan, bukan alasan untuk menghindarinya.
Seperti seorang pematung yang tahu bahwa marmer pilihannya memiliki serat-serat alam yang tidak rata. Ia tidak lalu membiarkan marmer itu begitu saja. Justru, dengan keterampilan dan visinya, ia mengolah setiap “retak” dan serat alam itu menjadi keunikan dan karakter pada mahakaryanya. “Retak” itu tidak dihilangkan, tetapi dikelola dan diubah menjadi nilai tambah.
Demikian pula dengan hidup kita. Setiap “retak”—setiap kegagalan, kesalahan, dan kekurangan—adalah bahan mentah. Apakah kita akan membiarkannya sebagai cacat yang memalukan, atau kita akan mengukirnya menjadi cerita keberhasilan?
Dari Pasrah Menuju Ikhtiar: Mengisi Celah “Retak” dengan Usaha
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi ketidaksempurnaan?
- Akui dan Terima, Lalu Evaluasi
Langkah pertama adalah jujur mengakui bahwa kita memang “retak”—kita punya kelemahan dan telah melakukan kesalahan. Jangan tutupi dengan peribahasa. Terima kenyataan itu dengan rendah hati, lalu tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang bisa saya pelajari dari ‘retak’ ini? Bagaimana agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama?” - Beralih dari Mindset “Fixed” ke “Growth”
Jangan percaya bahwa kemampuan kita sudah tetap adanya. Percayalah bahwa kita bisa tumbuh dan berkembang. “Retak” bukanlah takdir akhir, melainkan tantangan untuk diperbaiki. Setiap usaha untuk memperbaiki “retak” adalah sebuah kemenangan. - Jadikan “Retak” sebagai Motivasi, Bukan Pembenaran
Jika orang lain bisa sukses bukan karena mereka tanpa cacat, tetapi karena mereka berani berjuang memperbaiki setiap cacatnya. Thomas Edison gagal ribuan kali sebelum menciptakan bohlam yang sempurna. Ia tidak berkata, “Ya, memang tiada eksperimen yang tak gagal,” lalu berhenti. Ia justru berkata, “Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak bekerja.” - Bersikaplah Proaktif
Jangan menunggu “retak” itu datang. Berjuanglah sejak awal untuk memberikan yang terbaik. Berlatih lebih giat, bekerja lebih teliti, dan berkomunikasi dengan lebih baik. Dengan demikian, meski “retak” itu pasti ada, hasil akhir perjuangan kita akan tetap lebih baik dan bermakna.
“Tiada gading yang tak retak” adalah pengingat akan kerendahan hati kita sebagai manusia. Namun, ia bukanlah mantra untuk berhenti berusaha.
Kesimpulan: Gading yang Retak Tetaplah Berharga, Asal…
Hidup ini bukan tentang mencari gading yang tanpa retak—itu mustahil. Hidup adalah tentang bagaimana kita, dengan segala “retak” kita, masih berani untuk diukir, dibentuk, dan diperjuangkan agar memiliki nilai dan makna.
Janganlah berlindung pada kata “tiada gading yang tak retak” untuk membenarkan diam dan pasrah. Bangkitlah, berjuanglah, dan buktikan bahwa meski retak, kita adalah pribadi yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, gading yang penuh ukiran perjuangan jauh lebih mulia daripada gading halus yang tak pernah disentuh pahatan.
Leave a Reply